Bos yang tidak kompeten dan kasar ternyata tidak hanya
mengacaukan hari-hari kita. Sebab berdasarkan penelitian terbaru, bos yang
tidak menyenangkan seperti itu adalah sumber stres karyawan yang dapat
menyebabkan serangan jantung!
Adalah Anna Nyberg dari Karolinska Institute di Swedia yang melakukan
penelitian sebagai persyaratan mendapatkan gelar masternya. Nyberg melakukan
survei terhadap 20 ribu pegawai di Eropa. "Secara tersirat terlihat, pegawai
yang bosnya bukanlah pemimpin yang baik adalah awal dari terjadinya serangan
jantung. Dan uniknya, serangan jantung pada pegawai ini lebih banyak dialami
oleh laki-laki," paparnya.
Ternyata, Nyberg menambahkan, masalah pekerjaan terbawa terus sampai pegawai
keluar dari ruang kerjanya. Inilah yang terjadi pada pegawai-pegawai yang
ditelitinya di Swedia, Firlandia, Jerman, Polandia, dan Italia. Pegawai di
Swedia, 25 persen lebih berisiko mengalami serangan jantung selama 10 tahun
belakangan. Risiko serangan jantung ini akan berlangsung lama ketika para
pegawai terus bekerja dengan bosnya yang tidak menyenangkan dalam jangka
waktu lama.
"Ini jelas menunjukkan, adanya hubungan antara kemampuan memimpin seseorang
dengan tingkat stres bawahannya," katanya.
Ketika pegawai hanya mengeluh tentang bosnya, itu adalah awal dari stres
akan terus terjadi. Sebab, Nyberg menjelaskan, dari data yang dimilikinya,
pegawai yang lebih sering ijin sakit memiliki keterkaitan dengan bagaimana
bosnya memberikan perintah.
Lalu bagaimana dengan pegawai perempuan? Nyberg menjawab, angka keterkaitan
kepemimpinan bos dengan status kesehatan karyawan, tidak terlalu jelas.
Tetapi Nyberg juga meyakini kemungkinan perempuan juga bisa mengalami stres
akibat bosnya tidak menyenangkan. "Karena pada dasarnya, stres pekerjaan
dialami oleh laki-laki dan perempuan."
Menanggapi penelitian Nyberg, direktur Behavioral Medicine Research Center
di Duke University, Dr Redford Williams, mengamini jika stres karena
pekerjaan memang disebabkan ketidakmampuan atasan untuk menjadi pemimpin
yang mendukung karyawannya. "Alhasil, stres ini membuat tubuh mengeluarkan
hormon yang menaikkan tekanan darah, menyebabkan peradangan, serta membuat
dinding pembuluh darah menjadi lebih tipis hingga serangan jantung mungkin
saja terjadi."
Karena atasan selalu menekan anak buahnya, lama-kelamaan akan membuat stres
berubah wujud menjadi serangan jantung dan stroke. "Bawahan memiliki posisi
tawar yang sedikit untuk bisa menghadapi bos yang tidak punya jiwa
kepemimpinan. Inilah yang kemudian membuat mereka mengalami penurunan status
kesehatan."
Sumber : kompas.com
Minggu, 07 Maret 2010
.jpg)