Vision (visi) merupakan: 1. penglihatan, daya lihat.. 2. pandangan. 3. impian, bayangan.
Mission (misi) merupakan: 1. tugas. 2. perutusan, utusan. 3. misi.
Urut-urutan itu tidak boleh dibalik. Jadi pertama-tama kita perlu melihat secara global dulu, baru melihat ke kedalamannya (detail).
Namun Tuhan tidak hanya campur tangan dengan hal yang (dalam pandangan manusia) buruk, Ia juga campur tangan dalam hal yang baik. Contoh mudah: menjaga keseimbangan alam semesta, yaitu matahari terbit dari timur setiap hari dan tenggelam di sebelah barat pada senja hari, lalu bulan dan bintang tetap pada jalur konstelasinya semula, kecuali mendekati akhir-akhir zaman yang diizinkan Tuhan untuk jatuh ke bumi (Wahyu 6:13).
Lalu menyangkut unsur yang kedua, yaitu Tuhan dan manusia. Sebenarnya kalau mau kita pikirkan, Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Besar, dan Maha Ajaib tidak memerlukan manusia untuk melakukan karya-Nya di dunia. Mengapa? Ya Dia kan serba Maha, kalau Dia mau, segala sesuatu dapat terjadi. Lalu mengapa Tuhan toh tetap menciptakan manusia, padahal dirinya sendiripun bisa melakukan segalanya?
Apa tujuan Tuhan menciptakan kita? Mengapa saya membahas konteks tujuan hidup ditinjau dari tujuan Tuhan dan bukan tujuan yang kita tentukan sendiri? Ingat konteks pencipta dan ciptaan. Suatu ciptaan tidak mungkin ada tanpa penciptanya membuatnya. Setiap kali suatu ciptaan dibuat, tentu saja ada suatu maksud dan tujuan tersendiri dari penciptanya.
Lalu apa tujuan penciptaan kita? Apakah rencana Tuhan membuat kita ada? Apa maksud Tuhan menghadirkan kita? Tentu saja bukan karena kebetulan, bukan karena tanpa maksud, dan mengambil kata-kata yang sering diucapkan oleh pendeta saya, "bukan karena Tuhan iseng, karena Tuhan tidak pernah iseng". Ya Tuhan itu tidak pernah melakukan sesuatu tanpa tujuan dan karena iseng, karena sedang senggang tidak tahu mau melakukan apapun, jadi tiba-tiba membuat manusia. Tidak! Sama sekali tidak demikian.
Alasan dan tujuan penciptaan manusia:
1. Kejadian 1:26a: Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, ..".
Hal yang mau saya tekankan di sini adalah kata "Kita". Ya, Allah merupakan pribadi yang senang bersekutu. Sejak awal mula Ia yang adalah satu memiliki tiga pribadi: Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Mengapa Ia menciptakan malaikat? Mengapa Ia menciptakan manusia? Karena Allah adalah pribadi yang senang bersekutu. Ia menciptakan manusia untuk bersekutu dengan-Nya, untuk memuji dan memuliakan Dia.
Saya akan mengambil konteks pada saat hari kedatangan Yesus kembali yang kedua kali untuk mengontraskan saat penciptaan (saat awal) dan saat akhir. Dalam
Wahyu 19:7a: Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai dan memuliakan Dia!"
Ya karena Allah adalah pribadi yang senang bersekutu, Ia menciptakan kita untuk bersekutu dengan-Nya, untuk memuji dan memuliakan Dia.
Jadi bagaimana dengan hidup kita sehari-hari? Apakah kita (Anda dan saya) sudah bersekutu dengan-Nya? Apakah kita (Anda dan saya) sudah memuji dan memuliakan Dia? Memuji dan memuliakan bukan hanya perkataan, bukan hanya dengan nyanyian, bukan hanya dengan bertepuk tangan, bukan hanya dengan mengangkat tangan, bukan hanya dengan berdoa, bukan hanya dengan musik, bukan hanya dengan tarian, ya semuanya itu baik adanya. Tetapi memuji dan memuliakan juga dengan kehidupan kita sehari-hari, apakah setiap keberadaan diri kita (Anda dan saya) sudah mencerminkan bentuk pujian dan kemuliaan bagi Tuhan?
2. Kejadian 1:27: Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
Ya, Tuhan menciptakan kita (Anda dan saya) segambar dengan-Nya. Berarti kita perlu menunjukkan karakter-karakter Kristus dalam diri kita. Sejalan dengan nomor dua di atas, kita perlu menghasilkan buah.
Buah apa yang dimaksud? Buah Roh! Dalam Galatia 5:22-23b tertulis jelas mengenai karakter-karakter apa yang perlu kita miliki untuk memenuhi tujuan penciptaan kita: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.
Gambaran Allah ini rusak karena adanya dosa. Tapi syukur kepada Allah!
Yohanes 3:16: Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Ya, Allah telah mengaruniakan keselamatan dengan memberikan darah Kristus yang tercurah bagi setiap manusia yang percaya kepada-Nya. Ya, darah dari Allah sendiri! Untuk memulihkan manusia dan mengembalikan manusia pada maksud Allah semula, yaitu untuk segambar dengan-Nya.
Allah telah memberikan kesempatan untuk pemulihan gambar diri Anda, citra diri Anda, untuk kembali serupa dengan-Nya. Harganya adalah cuma-cuma alias gratis alias ga pake bayar! Pertanyaannya adalah apakah Anda mau menerima itu? Jangan keraskan hati Anda! Jangan mempertahankan kedegilan Anda!
3. Kejadian 1:2b: ...supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi,
lalu dalam
Kejadian 2:15: TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.
Tujuan penciptaan kita adalah untuk menguasai bumi dan mengusahakan bumi. Secara sederhana tujuan penciptaan kita adalah untuk bekerja, menghasilkan buah. Untuk menunjang ayat tersebut saya akan mengutip
Filipi 1:22a: Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.
Apa yang kita kerjakan? Hal apa yang harus kita kerjakan? Jawabannya adalah melakukan apapun yang dipercayakan Allah kepada kita: pelayanan! Dalam hal ini saya ingin mematahkan konsep pelayanan = di gereja, pelayanan = di gedung ibadah, pelayanan = berkaitan dengan masalah rohani. Tidak! Sama sekali tidak! Sama sekali bukan! Ya, melayani di gereja, melayani di gedung ibadan, melayani berkaitan dengan masalah rohani itu merupakan satu bagian dari suatu pelayanan, tapi bukan berarti yang satu-satunya. Jangan salah mengerti!
Jika ada di antara Anda yang berpikiran seperti itu, saya dalam kesempatan ini ingin meluruskan hal itu. Setiap apapun yang kita kerjakan untuk menghasilkan buah kebaikan, itu adalah pelayanan. Berada di mana dan apapun yang kita kerjakan itu adalah pelayanan. Bekerja sehari-hari adalah pelayanan.
Menjadi seorang ibu rumah tangga itu adalah sebuah pelayanan. Menjadi seorang pembantu rumah tangga itu adalah pelayanan. Menjadi menantu yang baik itu adalah sebuah pelayanan. Menjadi orang tua itu adalah pelayanan. Membantu adik belajar itu adalah pelayanan.
Menyemangati orang yang sedang terpukul, mengunjungi orang yang membutuhkan teman, dan bahkan hanya sebuah senyuman bagi orang asing, itu adalah pelayanan. Sebuah jabatan tangan penerimaan dan sebuah tepukan di bahu sebagai pemberian semangat, itu semua adalah pelayanan.
4. Untuk menangkap dan melaksanakan kerinduan hati Tuhan. Saat Anda mencintai seseorang, tentu saja Anda ingin menangkap dan melaksanakan apa yang paling diinginkan hatinya bukan? Anda ingin sekali menyenangkan dirinya, bahkan kalau perlu Anda akan berkorban banyak hal untuk dirinya. Sama dengan Tuhan. Anda diciptakan untuk menangkap dan melaksanakan kerinduan hati-Nya. Apakah kerinduan hati-Nya?
Selain poin satu, dua, dan tiga di atas, masih ada satu poin lagi, yaitu yang tercantum dalam Amanat Agung Tuhan Yesus.
Matius 28:19-20a: Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu..
Ya, ini kerinduan hati Tuhan! Bahkan sebelum Tuhan Yesus mengalami aniaya dan sengsara, Ia memberikan pesan penting pada Petrus sebanyak tiga kali untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yohanes 21:15-17).
Pada saat orang akan ‘pergi', biasanya pesan terakhir yang disampaikan merupakan pesan yang teramat penting. Orang-orang yang diingatnya merupakan yang ada dalam hatinya. Ya begitu pula dengan Tuhan Yesus. Sebelum Ia kembali pada Bapa, Ia memberikan kerinduan hati-Nya. Tangkaplah itu dan laksanakan kerinduan hati Tuhan dalam hidup kita!
Jadi, maksud dan tujuan kita ada di dunia ini berkaitan erat dengan unsur kedua dan ketiga, yaitu Tuhan dan kita, lalu kita dan dunia. Unsur kedua berkaitan dengan poin 1, 2, 3, dan 4, sedangkan unsur ketiga berkaitan dengan poin 3 dan 4. Jadi, sekarang sudah jelas tujuan kita (Anda dan saya) hidup di dunia ini. Pertanyaannya adalah:
(Apakah Anda ingin membuat hidupmu benar-benar jadi hidup?)
Jawabannya adalah bila Anda menjawab "Ya" pada pertanyaan berikut ini:
"Do you want to live you life purpose?"
(Apakah Anda ingin menghidupi tujuan hidup Anda?).
It's your life. It's your decision.
(Ini hidup Anda. Itu keputusan Anda).
Vision (visi) merupakan: 1. penglihatan, daya lihat. 2. pandangan. 3. impian, bayangan.
Penjelasan mengenai visi ini akan saya bagi dua, yang pertama yang berkaitan dengan suatu bentuk karunia, yaitu karunia penglihatan atau juga merupakan sesuatu yang Tuhan bukakan dan berikan dalam bentuk penglihatan (definisi pertama), sedangkan yang kedua adalah yang berkaitan dengan impian dalam hidup kita (definisi ketiga).
Berkaitan dengan pembahasan pertama berdasarkan definisi visi, yaitu yang merupakan karunia penglihatan atau sesuatu yang Tuhan bukakan dalam bentuk impian sebenarnya ini bukan titik yang mau saya tekankan. Pembahasan mengenai visi akan lebih saya titikberatkan pada yang kedua. Tetapi karena per definisi ada, maka saya akan berangkat dari yang pertama dulu.
Banyak orang yang memiliki karunia yang tidak biasa ini, bahkan dapat dikatakan suatu karunia yang luar biasa.. Walaupun demikian, ingat setiap hal yang dipercayakan Tuhan mengandung tanggung jawab! Ya, setiap karunia yang Tuhan berikan, tentu saja ada suatu maksud di dalamnya, yaitu untuk membangun umat-Nya.
Dalam 1 Korintus 12:4-7 tertulis jelas hal ini:
"Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang. Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama".
Oleh karena itu, setiap karunia harus kita gunakan dengan bijaksana, yaitu untuk kemuliaan Tuhan dan juga bukan untuk kepentingan pribadi (untuk nama baik/ketenaran, kekayaan, hormat, dll).
Di Alkitab terdapat banyak tokoh yang memiliki atau diberi karunia penglihatan ini, namun jika Anda tidak memilikinya, jangan kuatir. Setiap apapun yang Tuhan beri dan taruh dalam hidup kita, semuanya istimewa. Tidak ada yang lebih hebat dibanding yang lain. Bahkan untuk bisa beriman pun kepada Tuhan, itu adalah suatu anugerah yang luar biasa. Tidak semua orang memilikinya.
Mari kita masuk pada inti pembahasan kita, yaitu berkaitan dengan impian yang Tuhan berikan dalam hidup kita. Apa visi Anda? Sudahkah Anda mengetahuinya? Sudahkah Anda mengejarnya? Atau Anda membiarkan diri Anda mengalir begitu saja tanpa arah? Visi kita (Anda dan saya) tidak boleh bertentangan dengan tujuan hidup kita dan tujuan hidup kita tidak boleh bertentangan dengan tujuan penciptaan kita (baca artikel "Purpose, Vision, and Mission in Your Life (Trilogi-1)").
Visi berbicara sesuatu yang besar dan kadang sampai begitu besar sampai membuat kita berpikir,
"Wow, God, it's so big. It's too big. Can I do it?"
("Wow, Tuhan, itu sesuatu yang besar. Itu terlalu besar. Dapatkah aku melakukannya?")
Ya, kalau tidak besar, itu bukan visi namanya. Anda diciptakan segambar dengan Allah, dan Allah kita adalah Allah yang Besar! Mungkinkah Allah yang besar memberikan pada Anda visi yang kecil yang dapat dengan mudah, sehari atau dua hari, sebulan atau dua bulan, setahun atau dua tahun, Anda segera capai? Tidak! Sama sekali tidak! Penggenapan visi bahkan bisa mencapai seumur hidup atau setidaknya sebagian besar dari umur Anda.
Pada waktu suatu visi telah tergenapi, telah tercapai, biasanya Anda akan dibukakan dan diberikan visi lain yang tidak kalah besarnya, yang sudah tentu tidak akan bertentangan dengan tujuan hidup Anda. Bila Anda belum memiliki visi dalam hidup Anda, ada beberapa langkah yang dapat Anda tempuh:
1. Minta pada Tuhan untuk membukakan visi Anda. Ingat dalam Matius 7:7:
"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu". Ya, Allah adalah Allah yang Maha Baik. Ia tahu betul apa yang Anda perlukan. Jika Anda membutuhkan suatu arah dalam hidupmu, jika Anda ingin tahu apa visi yang Tuhan taruh dalam hidup Anda, berdoalah sekarang juga secara sungguh-sungguh. Minta! Jangan malu untuk meminta.
2. Setelah meminta, jangan lupa untuk selalu hidup dalam ketaatan. Ya, taat! Patuh! Kedengarannya sepele, tapi bukan hal yang mudah untuk menjalankannya. Taat berbicara tentang tunduk, penundukkan diri (submissive). Untuk tunduk seseorang harus mengakui dirinya lebih rendah daripada orang yang kepadanya ia tunduk. Untuk tunduk diperlukan penyangkalan yang sangat besar terhadap keakuan kita. Ya, keakuan berbicara tentang, "Aku yang paling utama, aku yang paling penting."
Untuk tunduk diperlukan suatu rasa hormat pada otoritas (pemegang kuasa) yang lebih tinggi, bahkan dalam hal ini yang tertinggi, yaitu pada Allah sendiri.
Pada saat kita taat, kita akan melihat hal-hal yang besar terjadi. Ketaatan adalah kunci gerbang untuk menghidupi firman. Ketaatan adalah kunci untuk hidup dalam rencana Tuhan. Untuk berjalan dalam sesuatu yang kita ketahui, itu adalah sesuatu yang mudah sekali. Untuk berjalan dalam sesuatu yang tidak ketahui? Wow, sulit sekali kalau kita tidak mau taat.
Mungkin seperti saya, Anda juga bukan orang yang peka terhadap hal yang Tuhan mau. Ya, saya bukan orang yang peka. Tapi, kuncinya hanya satu: MAU! Mau untuk taat dan Tuhan bukakan, terlepas dari ketidakpekaan saya.
Kalau boleh saya bagikan, selama ini saya mengingat visi saya adalah untuk menjadi seorang pengajar dan saya memperoleh visi ini lewat berbicara dengan seorang mantan dosen tempat saya kuliah dan lalu tiba-tiba saja.. saya berpikir "Ya, ini impian saya". Lihat cara Tuhan: walau saya tidak peka, Tuhan menggunakan pembicaraan singkat di suatu siang dengan mantan dosen saya, untuk tiba-tiba menjadi semacam eye and mind opener (pembuka mata dan pikiran) mengenai impian saya.
Namun akhir-akhir ini, Tuhan mengingatkan saya, bahwa visi saya sebagai pengajar adalah suatu bagian dari visi besar yang Tuhan taruh dalam hidup saya. Ya, suatu visi yang begitu besar dan sudah cukup lama saya dapatkan, dan saya sudah lupakan, sampai akhir-akhir ini tiba-tiba Tuhan ingatkan kembali. Hal yang sangat menarik cara Ia mengingatkan saya.
Setiap hari saya mengirim pesan singkat pada sejumlah teman-teman saya. Tiba-tiba suatu hari ada seseorang teman yang mengirimkan pesan kembali pada saya. Ia sudah lama tidak pernah mengirimkan pesan kembali. Isinya adalah "God remembers the good we forget" (Hebrews 6:10). Have a wonderful Friday. GBU :)." Pesan singkat itu dikirimkan pada 6 Maret 2009 pukul 10:22. Singkat sekali.
Setelah saya membaca pesan itu, mungkin satu atau dua hari sesudahnya, Tuhan mengingatkan saya pada nubuatan-nubuatan lama yang diberikan-Nya pada saya lewat orang-orang lain yang tanpa saya minta. Saya ingat nubuatan-nubuatan lama itu berkaitan dengan kerinduan hati saya yang sebenarnya terpendam dan tak banyak orang yang mengetahuinya. Lihat cara Tuhan: lewat sms dan lewat ingatan mengenai nubuatan lama yang diberikan oleh orang lain.
Berkaitan dengan nubuatan-nubuatan lama, akhir-akhir ini juga sejumlah orang memberikan nubuatan-nubuatan baru yang sesuai dengan nubuatan-nubuatan lama yang telah diberikan sebelumnya. Hal yang sama adalah nubuatan-nubuatan tersebut datang dari sejumlah orang yang berbeda dan tanpa diminta. Berkaitan dengan kerinduan hati saya. Sifat dari kesemua nubuatan itu adalah saling melengkapi dan tidak bertentangan satu dengan lainnya. Menarik sekali! Lihat cara Tuhan: konfirmasi ulang melalui nubuatan baru yang diberikan oleh orang lain.
Lalu kemudian beberapa hari sesudahnya, Tuhan mengingatkan lagi pada saya sesuatu hal yang sudah lama terlupakan. Suatu saat di pagi hari saat saya bersaat teduh bersama-Nya dan saat itu Tuhan membukakan suatu visi yang begitu besar yang saya sekarang ingat betul dengan jelas. Aneh bukan, betapa visi yang begitu besar ini bisa terlupakan begitu saja, padahal hal ini begitu membekas pada saat itu. Mungkin kejadian di pagi itu sudah berlangsung tiga atau empat tahun yang lalu, dan mungkin masuk akal sekali bagi saya untuk melupakannya. Ya, ingatan manusia begitu terbatas.
Tapi anehnya Tuhan ingatkan kembali. Saya masih ingat saat Tuhan bukakan visi itu bagi saya, saya berargumen dengan Tuhan, "Tuhan, betulkah? Rasanya itu terlalu besar untuk saya. Saat ini saya rasanya baru menjalankan hanya setitik dari yang Tuhan bukakan" Tapi Tuhan meyakinkan saya bahwa itu yang Ia taruhkan bagi saya. Saya sekarang baru ingat kembali bahwa beberapa hari setelah pengungkapan visi itu saya menceritakan pengalaman saya kepada seorang teman dekat saya dan teman saya mengatakan "Amin! Diaminkan!". Lihat cara Tuhan: Tuhan membukakan lewat saat teduh dan lewat konfirmasi seorang teman dekat.
Kelihatannya cara-cara yang Tuhan pakai pada saya sangat sederhana bukan? Ya, hanya lewat kejadian sehari-hari yang sangat mungkin terjadi pula pada setiap orang. Walau saya tidak peka, tapi Ia adalah Allah yang luar biasa. Ia bisa menggunakan penglihatan yang luar biasa, namun juga bisa menggunakan cara-cara sederhana sehari-hari untuk membukakan visi besar yang disediakan-Nya bagi kita. Kuncinya hanya: MAU! Mau taat!
Ya, saya bukan orang yang luar biasa. Saya sama saja seperti orang-orang lainnya: seorang manusia yang begitu terbatas. Saya masih sering berargumen dengan Tuhan. Saya masih sering ingin mengelak. Saya masih sering berkata, "Nanti deh ya, Tuhan". Namun di tengah segala keterbatasan saya, Tuhan mau memakai saya sebagai alat-Nya. Benar-benar suatu kehormatan besar yang tidak dapat saya bayangkan! Puji nama Tuhan! Kalau Tuhan bisa pakai saya yang begitu terbatas, Ia juga bisa menggunakan Anda! Kalau Tuhan mau membukakan visi saya, Tuhan juga mau membukakan visi Anda. Kuncinya hanya satu: MAU! Mau taat!
3. Tetap berpegang dan bersandar pada Dia. Ya, saat kita meminta visi dari Tuhan, seringkali hal yang dibukakan oleh Tuhan itu sangat wah, sangat besar, membuat kita limbung, takut, gentar. Tapi ingat, saat Tuhan memberikan sesuatu, Dia juga tahu itu adalah dalam kapasitas kita. Dalam Matius 11:29-30: Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."
Ya, Tuhan tahu benar kapasitas kita. Ia tidak mungkin memberikan sesuatu yang terlalu besar bagi kita. Pada saat kita merasa sesuatu terlalu besar, ingat untuk selalu berpegang dan bersandar pada-Nya. Karena Ia adalah Allah yang Tak Terbatas, kita dapat selalu bersandar pada yang Tak Terbatas itu.
4. Melangkahlah dan tetaplah melangkah! Bila Anda sudah melakukan poin 1, 2, dan 3, maka lanjutkan! Melangkahlah dan tetaplah melangkah! Just do it! Lakukan saja!
Yakobus 2:17: Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.
Visi pada dasarnya merupakan suatu bentuk iman. Ingat definisi iman?
Ibrani 11:1: Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
Sesuatu yang besar yang ada di depan yang bahkan mungkin belum bisa kita lihat. Ya, itulah dia.
Menghadapi segala sesuatu yang belum kita lihat, kelihatannya sangat menakutkan, sangat tidak berprospek, dan berpotensi besar untuk membuat kita lemah dan patah semangat. Namun, melangkahlah dan tetaplah melangkah! Seorang filsuf Cina, Lao-tzu berkata, "A journey of a thousand miles begins with a single step."
Ya, perjalanan ribuan mil dimulai dari langkah pertama. Melangkahlah! Setelah mengambil sebuah langkah, teruslah melangkah! Kita (Anda dan saya) akan menemukan hal yang besar itu di akhir langkah kita. Kapankah akhir langkah kita? Mungkin 10 tahun dari sekarang, mungkin 20 tahun dari sekarang. Kita tidak akan pernah tahu. Tapi yang pasti, saat kita mau melangkah, dan melangkah, lalu terus melangkah, kita pada akhirnya akan menggenapi visi kita.
Jadi? Apa visi Anda?
Mari cari, temukan, gali, melangkah, dan berjalan untuk mencapai penggenapannya bersama dengan Tuhan.
Mission (misi) merupakan: 1. tugas. 2. perutusan, utusan. 3. misi.
Berdasarkan definisi di atas, apa misi Anda? Hal yang pasti Anda camkan adalah apapun misi Anda, yang pasti tidak akan menyimpang dari life purpose (tujuan hidup) Anda dan visi Anda. Kalau menyimpang brarti ada sesuatu yang keliru dan Anda perlu berbalik untuk meluruskan itu terlebih dahulu...
Kalau mau disimpulkan secara singkat jalinan antara trilogi 1, 2, dan 3 adalah sebagai berikut:
Tujuan hidup (life purpose) adalah gambar besar (big picture) yang merupakan pedoman untuk penentuan arah hidup Anda. Visi adalah arah yang Anda tuju. Misi merupakan kompas untuk mencapai arah tersebut.
Untuk menyederhanakan dan memperdalam pengertian Anda, saya akan membuat dalam bentuk contoh. Misal tujuan hidup Anda berkaitan dengan tujuan penciptaan Anda yang Anda pilih adalah memuji dan memuliakan Tuhan (lihat pembahasan pada Trilogi 1). Visi Anda dalam memuji dan memuliakan Tuhan adalah membawa orang lain juga untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Misi Anda dalam membawa orang lain untuk memuji dan memuliakan Tuhan adalah dengan pengajaran. Contoh mudahnya seperti itu.
Berkaitan dengan misi, terdapat beberapa hal yang ingin saya bagikan:
1. Setelah mengetahui tujuan hidup dan visi Anda, Anda perlu bergerak ke misi. Ya, penetapan misi. Poin ini menjadi sangat penting karena tanpanya Anda tidak dapat berjalan mencapai tujuan dan visi Anda.
2. Setelah menetapkan misi cek kembali sesuai atau tidaknya misi yang Anda tetapkan dengan tujuan hidup dan visi Anda (baca kembali Trilogi 1 dan 2). Ingat: misi Anda harus sesuai dengan visi Anda. Visi Anda harus sesuai dengan tujuan hidup Anda. Tujuan hidup Anda harus sesuai dengan tujuan Tuhan menciptakan Anda.
3. Serahkan misi Anda pada Tuhan dan taatlah.
Yeremia 10:23: Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya.
Ya, kita mungkin telah menentukan misi yang mau kita kerjakan, tetapi jika Tuhan mau kita mengubahnya taatlah.
4. Lakukan langkah untuk menjabarkan misi Anda dalam kerangka yang lebih kecil dan manageable. Dalam Renungan Harian edisi Januari 2009: "Goal Setting" yang ditulis oleh Christov dituliskan mengenai goal. Saya akan menggunakan istilah target untuk goal ini. Dalam "Goal Setting terdapat banyak hal yang menarik namun saya hanya akan mengutip dua hal, yaitu kriteria penyusunan target (goal) dan prinsip-prinsip penting untuk mencapai target (goal).
Kriteria penyusunan target (goals): SMART
S-pecific (khusus dan jelas).
M-easurable (dapat diukur).
A-ttainable (dapat dicapai).
R-ealistic (realistis).
T-angible (konkrit).
Prinsip-prinsip penting untuk mencapai target (Goals):
- Berkatalah TIDAK pada sebuah kesempatan dan berkatalah YA kepada target (goals).
- Target (goals) kita harus bersumber dari kerinduan yang dalam dan keinginan yang besar.
- Teguhlah terhadap target (goals) kita dan jadilah fleksibel terhadap metode kita (aktivitas).
- Tulislah target (goals) kita.
- Kenalilah hambatan-hambatan dalam mencapai target (goals) kita.
- Kenalilah pendukung kita (hal-hal atau orang-orang) untuk mencapai target (goals) kita.
- Visualisasikanlah target (goals) kita.
- Jangan pernah menyerah untuk mencapai target (goals) kita.
- Revisilah target (goals) kita bila diperlukan.
- Berpikirlah positif selalu.
- Untuk memuliakan Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama manusia.
5. Lakukan sekarang juga. Just do it. Ya, jangan menunda-nunda.
Efesus 5:16: dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.
Saya masih sering bergumul dengan hal, penyakit saya adalah sering menunda-nunda. Entah karena mood atau memang karena ingin sempurna melakukan sesuatu. Ketika banyak hal harus dikerjakan rasanya jadi tidak tertahankan banyaknya.
Oleh karena itu saya biasanya membuat suatu daftar untuk memuat hal-hal yang harus saya kerjakan dan membuat reward sistem untuk menyemangati saya bila saya telah kerjakan saat itu juga. Anda bisa melakukan hal yang sama untuk menyemangati diri sendiri.
6. Mau membayar harga. Membayar harga artinya ada sesuatu yang harus kita korbankan saat kita mau mencapai misi kita. 2 Timotius 4:5 tertulis harga-harga yang harus kita bayar,
"Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!"
Ya, untuk memperoleh sesuatu perlu ada korban, pembayaran harga. Apakah korban Anda? Kesenangan Anda? Hobi Anda? Waktu Anda? Uang Anda? Tenaga Anda? Pikiran Anda? Kedagingan Anda? Dosa Anda? Silakan menjawabnya sendiri.
Seperti Abraham mengorbankan Ishak walaupun Ishak adalah anak yang begitu lama ditunggunya, bahkan Kristus telah memberikan teladan sempurna dalam membayar harga.
1 Korintus 6:20: Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar.
Ya, harga kita adalah darah-Nya. Puji Tuhan untuk kasih-Nya yang sempurna!
Jadi, mau jadi lebih dari pemenang?
Lakukan bagian kita dengan setia dan lihat Ia yang adalah setia akan melakukan bagian-Nya.
.jpg)
Jumat, 09 April 2010