Di sebuah desa hiduplah seorang gadis. Ia memiliki keluarga yang lengkap. Ia punya ayah, ibu, dan seorang adik laki-laki. Mereka tidak hidup dengan berkelimpahan. Tetapi masih cukup.
Gadis itu beragama Kristen. Ia merasa tak punya tempat bergantung, selain kepada Tuhan. Maka apapun yang ia lakukan ia selalu berdoa untuk minta pimpinan Tuhan. Sejujurnya gadis itu sudah tak sanggup lagi untuk menjalani hidup yang seperti ini. Tapi karena ia masih mempunyai Tuhan, maka ia selalu dapat bertahan.
Dulu waktu kecil hidup gadis ini sangatlah senang. Setiap tahun ulang tahunnya selalu dirayakan dengan pesta kecil. Tapi entah sejak kapan ulang tahunnya tidak lagi dirayakan. Karena menurut orang tuanya membuat pesta kecil seperti itu hanya akan membuang-buang uang. Keluarganya dari dulu sering berpindah-pindah. Pernah mereka tinggal dirumah yang tak bisa dibilang layak untuk ditinggali.
Pada saat anak itu SMP, ia suka sedih melihat teman-temannya. Ia suka iri pada teman-temannya. Karena teman-temannya memiliki benda yang sangat diingininya. Tapi ia selalu tau bahwa apapun yang ia inginkan tak akan diberikan oleh orang tuanya. Sehingga untuk mendapatkan apa yang ia inginkan ia harus menabung atau menunggu om dan tantenya memberinya uang jajan.
Pernah satu kali saat ia ingin sekali memiliki handphone. Ia tau bahwa orang tuanya tak akan mampu membelikannya. Maka ia menunggu imlek. Pada saat imlek ia akan dapat banyak angpau. Dan uangnya itu akan ia gunakan untuk membeli handphone. Akhirnya imlek tiba. Tuhan memang baik padanya. Angpau yang ia terima cukup untuk membeli handphone yang ia inginkan, meski memang bukan handphone yang bagus. Tapi ia senang sekali akhirnya bisa memiliki handphone .
Beberapa tahunpun berlalu. Gadis itu kini telah bekerja. Gajinyapun hanya cukup untuk dirinya sendiri. Tapi ia sangat ingin membahagiakan orang tuanya. Jadi untuk meringankan orang tuanya, biaya sekolah adiknya ia yang memenuhinya. Meski dengan gaji yang tidak bisa dibilang banyak. Tapi setidaknya untuk memenuhi kebutuhan adiknya ia masih sanggup.
Sebenarnya ia sangat bersyukur karena dulu adiknya biaya sekolahnya diberikan oleh gereja. Jadi gereja membiayai sekolah adiknya. Tapi karena banyak anak yang meminta beasiswa dari gereja itu. Akhirnya gereja itu mengeluarkan keputusan beasiswa hanya
Sejujurnya ia sangat kecewa pada ayahnya. Karena sebagai seorang ayah, ayahnya tidak melakukan hal yang harus dilakukan. Harusnya sebagai kepala keluarga dialah yang memenuhi kebutuhan keluarga. Tapi ayahnya malah berjudi. Kadang kalau sudah berjudi, ayahnya tidak mau menjemput gadis itu pulang kerja. Sehingga gadis itu harus pulang naik angkot atau bis. Memang tidak apa-apa gadis itu naik bis, tapi kadang ia suka kecewa karena ayahnya demi berjudi suka melupakan keluarga.
Ibu dari gadis itu bekerja sebagai pembuat kue dan ibunya menitipkan kuenya di toko-toko kue. Membuat kue itu tidaklah mudah. Tetapi demi keluarga ibunay berusaha untuk membuat yang terbaik. Meski ibunya sudah tua, ibunya selalu mau berusaha. Sedang ayahnya yang seharusnya bekerja malah tidak peduli.
Suatu hari kacamata anak itu pecah karena adiknya tidak hati-hati mengambil jaket yang ada diatas ranjang. Ia tidak melihat ada kacamata diatas jaket itu. Sehingga kacamata itu jatuh dan retak kacanya. Gadis itu berpikir, gajinya bulan ini tidaklah cukup untuk membuat kacamata karena banyak uang yang harus ia keluarkan untuk membayar utangnya.
Ia mengajak ayahnya ke pasar loak untuk membeli kacamata abang-abang agar sementara ia bisa melihat dengan kacamata itu. Tapi saat berdiri di depan abang-abang itu, gadis itu tidak berani bertanya pada penjual itu. Karena ia merasa malu. Lalu ayahnya bukannya membantunya menawar kacamata itu tp malah mengantarnya ke kantor. Hati gadis itu sangatlah sedih. Karena ia merasa ayahnya seakan-akan tak peduli pada keadaannya.
Malamnya ia memutuskan untuk ke toko kacamata langganannya untuk membetulkan kacamatanya. Ternyata tidak mahal membetulkannya. Ayahnya yang mengantarkannya ke toko kacamatanya itu. Akhirnya kacamatanya dapat dibetulkan. Gadis itu senang sekali.
Ia selalu merasa ia sendirian, tapi ternyata ayahnya tidak seperti yang ia bayangkan. Ternyata ayahnya juga mengasihinya. Akhirnya ia melepaskan pengampunan dan mau belajar untuk menerima ayahnya apa adanya. Dan ia merasa tidak ditinggalkan oleh Tuhan. Karena setiap kali ia mendapat masalah, selalu saja pertolongan datang tepat pada waktunya.
Sejak itu ia selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap hal yang ia lakukan. Karena ia merasa hanya Tuhan saja yang bisa membukakan jalan untuk setiap masalahnya. Dan hanya Tuhan yang selalu ada bersamanya, menanggung semua masalahnya bersama dengannya.
******
.jpg)
Senin, 21 Juli 2008